Home / Sahabat Nabi / Abu Ubaidah bin Jarrah : Sahabat Kepercayaan Umat (bagian kedua)

Abu Ubaidah bin Jarrah : Sahabat Kepercayaan Umat (bagian kedua)

Cerita islami, kisah sahabat nabi yang bernama Abu Ubaidah bin Jarrah ini merupakan lanjutan kisah sebelumnya.

Kepercayaan Rasulullah saw. kepada Abu Ubaidah tidak hanya dalam urusan peperangan, tetapi juga dalam urusan keagamaan. Suatu ketika, sekelompok orang Kristen Najran dari Yaman datang menyatakan keislaman mereka. Dalam kesempatan yang sama, mereka sekaligus meminta kepada Nabi agar dikirimi seorang guru untuk mengajarkan Al-Qur’an dan Sunah serta seluk beluk agama lslam.

“Baiklah, saya akan kirimkan bersama kalian seseorang yang terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya, benar-benar terpercaya.” Kata Rasulullah, Pujian yang begitu tulus keluar dari mulut Rasulullah yang mulia itu membuat para sahabat yang mendengarnya terkesima. Mereka semua berharap pilihan Rasulullah jatuh pada dirinya, karena pujian tersebut merupakan pengakuan yang jujur dari seorang Rasul yanS tidak diragukan lagi kebenarannya.
Mengenai peristiwa tersebut umar bin Khattab bercerita:

“Sebenarnya aku tak pernah tertarik menjadi seorang amir, tetapi ketika Rasulullah mengucapkan hal itu, aku sangat tertarik dan berharap bahwa orang yang dimaksudkan Rasulullah itu adalah aku. Aku pun cepat-cepat berangkat ke masjid untuk salat zuhur. Seperti biasa, Rasulullah-lah yang mengimami para jamaah. Ketika kami selesai salat, Rasulullah menoleh ke kanan dan ke kiri, Maka aku pun mengulurkan badanku, berharap Rasulullah melihatku. Rasulullah memang melihatku, tetapi beliau masih melayangkan pandanSannya mencari-cari seseorang, Ketika pandangan beliau tertumbuk pada Abu Ubaidah, wajah beliau tampak berseri-seri. Segera dipanggilnya Abu Ubaidah agar mendekat, lalu beliau bersabda ‘pergilah berangkat bersama mereka. Apabila nanti terjadi perselisihan di antara mereka, selesaikanlah dengan yang haq’. Maka berangkatlah Abu ubaidah bersama orang-orang dari Yaman itu.”

cerita islami Abu Ubaidah bin Jarrah Sahabat Kepercayaan Umat (bagian kedua)

Itulah gambaran kepercayaan Rasulullah kepada Abu Ubaidah. Kepercayaan beliau itu terus terjaga hingga beliau wafat. Sepeninggal beliau pun, Abu Ubaidah tetap menjadi orang kepercayaan di masa khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Bahkan, sesaat setelah Nabi saw. wafat, Umar bin Khattab bermaksud membaiatnya di Saqifah.

“Ulurkan tanganmu, wahaiAbu Ubaidah, agar saya dapat membaiatmu. Sebab, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sungguh dalam setiap kaum terdapat orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah’.”
“Saya tidak mungkin berani mendahului orang yang dipercayai oleh Rasulullah saw. menggantikan beliau menjadi imam kita ketika beliau sakit (maksudnya Abu Bakar ra.). Oleh sebab itu, sudah semestinyalah kita membaiatnya menjadi pemimpin kita sepeninggal Rasulullah saq.” jawab Abu Ubaidah.

Begitulah Abu Ubaidah, sahabat kepercayaan Rasulullah yang rendah hati. Pantaslah bila dia menjadi suri teladan bagi seluruh umat. Dia senantiasa memikul semua tanggung jawab dengan sifat amanah. Ketika Khalifah Abu Bakar memberinya jabatan mengurus keuangan negara, dia menjadikan jabatan itu sebagai amanah yang dipikulnya dengan penuh tanggung jawab.

Ketika pelaksanaan misi penyerbuan ke Syam (Suriah), Khalifah Abu Bakar menunjuknya sebagai panglima tertinggi. Akan tetapi dia tidak bersedia dan lebih memilih memimpin pasukan di Hims. Panglima perang ke Syam akhirnya dipegang oleh Khalid bin Walid. Pada perang Yarmuk menghadapi Heraklius, kaisar Romawi Timur, Abu Ubaidah menyerahkan tampuk pimpinan perang kepada Khalid bin Walid. Saat Umar bin Khattab menjadi khalifah, jabatan panglima perang diserahkan kembali kepada Abu Ubaidah. Penggantian itu berbarengan dengan tengah berkecamuknya peperangan besar yang amat menentukan. Saat itu, Khalid bin Walid sedang memimpin pasukan muslimin dengan gagah berani. Maka dengan kebijaksanaannya, Abu Ubaidah meminta utusan Khalifah untuk merahasiakan berita tersebut kepada umum. Dia tidak serta merta mengambil alih tampuk pimpinan pasukan dari tangan Khalid bin Walid, melainkan merahasiakan haknya itu sambil tetap berperang di bawah komando sang panSlima. Setelah kemenanSan tercapai, barulah Abu Ubaidah menemui Khalid untuk menyerahkan surat dari Khalifah.

“Semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Ubaidah. Mengapa engkau tidak menyampaikan kepadaku begitu surat ini datang?” tanya Khalid.
“Saya tidak ingin mematahkan ujung tombak Anda. Kita tahu, bukan kekuasaan dunia yang kita tuju, dan bukan untuk dunia pula kita beramal. Kita semua bersaudara karena Allah.” Demikian jawaban Abu Ubaidah, sebuah jawaban yang membuat Khalid semakin mengaguminya. Setelah serah terima jabatan itu, kepemimpinan pasukan muslimin beralih ke tangan Abu Ubaidah. Di bawah kepemimpinannya, pasukan muslimin berhasil menaklukkan kota-kota di Suriah dan Palestina, antara lain Damaskus, Hims, Hama, Qisnisrin, al-Ladhiqiyah (Suriah), Haleb (Alleppo), Antiokia (Suriah), dan Baitulmakdis (Yerusalem).
Abu Ubaidah bin Jarrah ra. ikut serta dalam semua peperangan kaum muslimin, bahkan selalu mempunyai andil besar dalam setiap peperangan tersebut. Salah satu jasa terbesarnya adalah penaklukan sebagian negeri Syam yang berhasil diraih pasukan muslimin di bawah pimpinannya.

Sisi lain dari kehebatan sahabat yang satu ini adalah kezuhudannya. Ketika kekuasaan lslam telah meluas dan kekhalifahan dipimpin oleh Khalifah Umar ra., Abu Ubaidah dilantik menjadi amir di daerah Syria. Saat Umar mengadakan kunjungan dan singgah di rumahnya, tak terlihat sesuatu pun oleh Umar ra. kecuali pedang, perisai, dan pelana tunggangannya. Umar pun lantas berujar, “Wahai sahabatku, mengapa engkau tidak mengambil sesuatu sebagaimana orang lain mengambilnya?”
“Wahai Amirul Mukminin, ini saja sudah cukup menyenangkan bagiku,” jawab Abu Ubaidah. Mendengar itu, Umar menitikkan air mata penuh haru. Dalam hati, ditekadkannya untuk menjadikan Abu Ubaidah, orang kepercayaan umat, panglima perang yang gagah berani namun tetap zuhud dan tawaduk, sebagai penggantinya jika kelak dia meninggal.

Itulah mengapa ketika wabah penyakit taun merajalela di negari Syam, Khalifah Umar bin Khattab merasa khawatir akan keselamatan Abu Ubaidah. Beliau segera mengirim surat untuk memanggil Abu Ubaidah agar kembali ke Madinah. Saat itu Abu Ubaidah sedang berada di tengah-tengah pasukannya, bersama mereka menghadapi ancaman musuh dan wabah penyakit sekaligus. Maka ketika surat tersebut datang, Abu Ubaidah menyatakan keberatannya dengan mengirimkan surat balasan yang isinya, “Wahai Amirul Mukminin, saya tahu bahwa Anda memerlukan saya sehingga Anda menyuruh saya pulang. Akan tetapi, seperti Anda ketahui, saya sedang berada di tengah-tengah pasukan muslimin. Saya tidak ingin menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya tidak ingin berpisah dari mereka sampai Allah sendiri menetapkan keputusan-Nya terhadap saya dan mereka. Oleh sebab itu, sesampainya surat saya ini, saya mohon dibebaskan dari rencana Baginda dan izinkanlah saya tinggal di sini.” Setelah Khalifah Umar membaca surat itu, beliau menangis, sehingga para hadirin bertanya, ‘Apakah Abu Ubaidah sudah meninggal?” “Belum, akan tetapi kematiannya sudah di ambang pintu.” Jawab Umar sedih.

Menjelang kematiannya, Abu Ubaidah berpesan kepada pasukannya:
“saya pesankan kepada kalian sebuah wasiat yang jika kalian terima, maka kalian akan selamat. Dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, berpuasalah di bulan Ramadan, berdermalah, tunaikanlah ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah kalian, sampaikanlah nasihat kepada pemimpin kalian dan jangan suka menipunya. Janganlah kalian terpesona dengan keduniaan, sebab betapapun seseorang melakukan seribu upaya, dia pasti akan menemui ajalnya seperti saya ini. sungguh Allah telah menetapkan kematian untuk setiap manusia’ oleh sebab itu, semua orang pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat”‘

Kemudian Abu ubaidah berpaling kepada Muaz bin Jabal ra. dan berkata kepadanya, ..Wahai Muaz! lmamilah salat mereka.” Setelah itu’ Abu Ubaidah ra. pun menghembuskan nafasnya yang terakhir’ Sepeninggal Abu Ubaidah, Muaz bin Jabal berpidato di hadapan kaum muslimin, .’Wahai sekalian kaum muslimin! Kalian sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang dari beliau’ oleh sebab itu doakanlah beliau, semoga kalian semua dirahmati Allah.”

Facebook Comments

About Gunawan

Check Also

Sa'ad bin Abi Waqqas - Sang Singa yang Menyembunyikan kukunya

Cerita Sa’ad bin Abi Waqqas – Sang Singa yang Menyembunyikan kukunya (bagian pertama)

Cerita Sa’ad bin Abi Waqqash Cerita islami, kisah sahabat nabi yang bernama Sa’ad bin Abi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *