Home / Kisah Wali Songo / Ajaran Sunan Ampel – Jasa Sunan Ampel – Perbedaan Pendapat Islamisasi adat istiadat

Ajaran Sunan Ampel – Jasa Sunan Ampel – Perbedaan Pendapat Islamisasi adat istiadat

Ajaran Sunan Ampel

Cerita islami wali songo mengenai sunan ampel ini akan membahas mengenai ajaran sunan ampel, jasa, dan perbedaan pendapat dengan beberapa sunan lainna tentang islamisasi adat istiadat jawa. Selamat membaca.

Murid dan Keturunan Sunan Ampel

Sunan Ampel sangat memperhatikan pendidikan putra dan putri., serta para muridnya. Buktinya, ada sebagian keturunannya yang kemudian menjadi tokoh islam terkemuka. Dari perkawinannya degan dewi candrawati atau nyai ageng manila, ia mendapatkan beberapa putra, di antaranya maulana makhdum ibrahim (sunan bonang), raden qosim (sunan drajad), maulana akhmad (sunan lamongan), siti muthmainnah, Siti Alwiyah, dan siti asikah yang dipersunting raden patah.

Ajaran Sunan Ampel

Adapun perkawinan sunan ampel dengan nyai karimah, putri ki wiryosaroyo, ia dikarunia dua orang putri, yaitu dewi murtasiyah yang diperistri Sunan Giri dan dewa mursimah yang diperistri sunan kalijaga. Ia biasa berbeda pendapat dengan putrai dan murid-mantunya yang juga para wali. Tetapi, perbedaan pendapat itu disikapinya dengan arif dan bijaksana.

Perbedaan pendapat dalam islamisasi adat istiadat jawa

Dalam hal menyikapi adat, sunan ampel lebih berhati-hati ketimbang sunan kalijaga. Suatu ketika, sunan kalijaga pernah menawarkan untuk meng islamkan adat, sesajen, selametan, wayang dan gamelan. Namun, sunan ampel menolaknya secara halus.

“Apakah tidak khawatir kelak adat itu akan dianggap berasal dari Islam?” kata sunan ampel, ia pun melanjutkan bicaranya, “Nantim hal itu bisa bid’ah atau dianggap membuat aturan baru dalam islam. Akibatnya, islam tidak murni lagi”

Pandangan sunan ampel ini didukung oleh sunan giri dan sunan drajat. Sementara itu, sunan kudus dan sunan bonang menyetujui sunan kalijaga. akhirnya, sunan kudus membuat dua kesimpulan ntentang adat istiada. Pertama, ada yang dapat dimasuki Islam, kedua ada yang sama sekali tidak dapat dimasuki islam.

Dalam musyawarah itu, sunan kudus menjawab pertanyaan suna ampel, “Saya setuju dengan pendapat sunan kalijaga. Jika adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada agama Tauhid, maka kita akan memberi warna islami. Sementara  itu, adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menujurus ke arah kemusyrikan, maka akan kita tinggalkan sama sekali. Misalnya, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun mengenai kekhawatiran kanjeng sunan ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa akan ada yang menyempurnakan suatu hari nanti”

Keberadaan dua pendapat yang seakan bertentangan tersebut sebenarnya mengandung hikmah. Sebab, pendapat sunan kalijaga dan sunan kudus ternyata ada manfaatnya, yaitu agama islam cepat diterima oleh orang jawa. Dan, ini terbukti dikarenakan dua wali tersebut pandai menyatukan adat istiadat lama yang dapat ditoleransi oleh Islam. Maka, banyak penduduk jawa yang berbondong-bondong masuk agama islam.

Pada, prinsipnya, masyarakat mau menerima Islam lebih dahulu, kemudian mereka akan diberi pengertian mengenai kebersihan tauhid dalam keimanan sedikit demi sedikit. Sebaliknya, pendapat sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni, juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki. Sebab, umat akan semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah

Meski demikian, perbedaan pendapat itu tidak menggangu silahturahmi antara para wali. Sunan Ampel memang dikenal bijak mengelola perbedaan pendapat. Karena tu, sepeninggal maulana malik ibrahim, ia diangkat menjadi sesepuh wali sango dan mufti (orang yang mengeluirkan fatwa) se tanah jawa.  Sunan ampelah yang memprakarasai pembentukan Dewan Wali sanga sebagai strategi menyelamatkan dakwah islam di tengah kemelut politik majapahit.

Jasa Sunan Ampel

Jasa sunan ampel yang paling besar adalah pencetus dan perencana kemunculan kerajaan islam dengan rajanya yang pertama yaitu raden patah, murid dan menantunya sendiri. ia juga turut membantu mendirikan masjid agung demak yang didirikan pada tahun 1477 M. Karena itu salah satu di antara empat tinag utama masjid Demak hingga sekarang masih diberi nama sesuai nama pembuatanya, dan sunan ampel adalah salah satu diantaranya.

Kehebatan para wali tersebut memang mengagumkan. Kesiapan mereka dalam menerima perbedaan pendapat adalah buktinya. Dalam hal adat istiadat rakyat jawa, Sunan Ampel jelas berbeda pendapat dengan sunan kudus, sunan kalijaga dan sunan gunung jati. Tetapi, mereka tetap bisa hidup rukun dan damai tanpa terjadi percekcokan yang menjurus pada pertikaian. Bahkan sunan kalijaga yang terkenal sebagai pelopor penjaga aliran lama menjadi menantu sunan ampel.

Putra sunan ampel sendiri, yaitu sunan bonang, adalah pendukung sunan kalijaga. Pada akhirnya sunan drajad atau raden qosim yang juga putra sunan ampel, ternyata ia memanfaatkan gamelan sebagai media dakwah yang ampuh untuk mendekati rakyat jawa agar mereka mau menerima islam. Itulah jiwa besar yang dimiliki para wali. Mereka saling menghargai medan perjuangan masing-masing anggotanya.

Makam Sunan Ampel

Akhirnya, sunan ampel wafat pada tahun 1481 M. Namun, sumber lain menunjukkan bahwa ia meningal tahun 1478 M. Setahun setelah masjid demak berdiri. Ia dimakamkan bersama ratusan santrinya di sebelah barat masjid ampel di areal seluas 1.000 meter persegi. Kompleks makam tersebut dikelilingi tembok besar setinggi 2,5 meter. Makam sunan ampel bersama istri dan lima kerabatnya diberi pagar bajan taha karat setinggi 1,5 meter dengan lingkaran seluas 64 meter persegi, khusus untuk makam sunan ampel dikelilingi pasir putih.

Makam sunan ampel hampir tidak pernah sepi, karena setiap hari ada saja orang yang berziarah di makam sunan ampel. Mereka tidak hanya dari lingkungan sekitar, tapi dari seluruh tanah air.

Ajaran Sunan Ampel Moh Limo

Ajaran sunan ampel yang terkenal untuk mendidik masyarakat waktu itu adalah falsafah “moh limo”. perintah yang dimaksud Moh limo, yaitu moh main (tidak mau judi), moh ngombe (tidak mau mabuk), moh maling (tidak mau mencuri), moh madat (tidak mau menghisap candu) dan moh madon (tidak mau berzina). Falsafah ini sejalan dengan masalah kemerosotan moral dan akhlak warga yang dikeluhkan oleh raja majapahit, prabu brawijaya

Facebook Comments

About Gunawan

Check Also

Cerita Sunan Kudus

Cerita Sunan Kudus – Senopati Hebat dari Demak Bintoro

Cerita wali songo kali ini mengisahkan cerita sunan kudu, beliau merupakan senopati yang hebat dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *